Teori struktur modal – Struktur modal merupakan salah satu aspek terpenting dalam finansial suatu perusahaan. Hal ini memiliki efek jangka pendek dan jangka panjang dan oleh karenanya perlu dipikirkan dengan matang.

Orang yang memikirkan mengenai struktur modal ini disebut dengan Chief Financial Officer, atau sering disingkat CFO. CFO bertanggung jawab untuk memastikan bahwa perusahaan memiliki pendapatan yang setinggi – tingginya dan pengeluaran yang serendah – rendahnya sehingga bisa menghasilkan keuntungan yang tinggi.

Untuk dapat menjadi CFO, tentunya orang tersebut perlu belajar mengenai struktur modal dari para ahli. Berikut adalah beberapa pengertian struktur modal menurut para ahli yang bisa kita jadikan referensi.

Baca juga : Apa itu Saham?

Teori Struktur Modal

1. Agency Theory

Menurut agency theory atau teori keagenan, penyusunan struktur modal dibuat untuk mengurangi konflik kepentingan antar pemangku kepentingan (stakeholders) di perusahaan. Konflik yang umum terjadi di perusahaan adalah antara management dan pemegang saham. Hal ini digambarkan secara gamblang dalam konsep free cash flow.

Dalam teori free cash flow digambarkan bahwa management mempunyai kecenderungan untuk menahan pemakaian sumber daya dan ingin menguasai sumber daya tersebut. Sedangkan pemegan saham ingin menggunakan sumber daya untuk mempercepat pertumbuhan perusahaan.

Alternatif solusi untuk mengatasi masalah tersebut adalah perusahaan menggunakan hutang. Ketika menggunakan hutang, maka management akan dipaksa untuk membayar bunga dari kas perusahaan.

Untuk mengatur proporsi antara ekuitas dan hutang yang optimal, maka pemilik wajib memiliki struktur modal. Perusahaan dapat melacak data ini dengan memiliki laporan keuangan yang baik.

2. Modigliani – Miller (MM) Theory

MM Theory merupakan teori struktur modal modern yang paling pertama. Mereka berpendapat bahwa struktur modal itu tidak relevant dan tidak mempengaruhi nilai perusahaan. Asumsi yang digunakan adalah tidak adanya insentif pajak atau penggunaan hutang oleh perusahaan.

3. Pecking Order Theory

Teori pecking order berusaha menjelaskan mengapa perusahaan yang memiliki hutang kecil, malah mempunyai tingkat keuntungan yang lebih tinggi. Hal ini dijelaskan lebih lanjut bahwa perusahaan memiliki preferensi mengenai modal yang digunakan untuk mengembangkan usaha. Pecking order theory menyatakan bahwa perusahaan akan memilih untuk menerbitkan hutang daripada menerbitkan saham ketika membutuhkan pendanaan eksternal.

Baca juga : Definisi & Pengertian Apa Itu Struktur Modal Perusahaan

4. Signalling Theory

Terkadang management dapat mengembangkan model bisnis di mana struktur modal merupakan sinyal yang diberikan ke pasar secara sengaja. Ketika management yakin bahwa perusahaan memiliki prospek yang baik dan ingin meningkatkan nilai saham di pasar, maka management akan menginformasikan hal tersebut kepada investor.

Management dapat mengambil hutang dari pihak ketika sebagai sinyal bahwa perusahaan tersebut kredibel dan dapat mengembalikan hutang tersebut beserta dengan bunganya. Selama hutang tersebut masih berada dalam batas yang wajar, maka banyak investor yang akan menambah investasi di perusahaan tersebut.

5. Trade – Off Theory

Trade-off theory merupakan teori struktur modal yang disampaikan oleh Myers pada tahun 2001. Teori ini mengatakan bahwa ,”Perusahaan akan berusaha untuk berhutang sampai pada tingkat tertentu, di mana perlindungan pajak (tax shields) dari tambahan hutang sama dengan biaya bunga hutang (financial distress)”.

Trade-off theory membantu untuk menentukan struktur modal yang optimal dengan memperhitungkan beberapa faktor. Sebagai contoh, pengusaha rela untuk mengambil hutang sebesar Rp 100 juta dan membayar bunga Rp 10 juta sepanjang pengusaha mendapatkan keuntungan pajak sebesar Rp 10 juta. Dengan begitu, pengusaha mendapatkan tambahan modal Rp 100 juta tanpa mengeluarkan biaya apapun.

Author

Write A Comment