Ketika terjadi krisis dan resesi ekonomi, investor perlu bertindak dengan lebih hati hati dalam memantau pergerakan harga market. Anda perlu bergabung dengan banyak grup, seperti telegram pelajarsaham atau website pelajarsaham.com sehingga bisa berbagi peluang untuk mendapatkan instrumen investasi berkualitas dengan harga murah.

Walaupun masa krisis adalah masa yang sulit, ternyata ada kesempatan emas yang tersembunyi di sana. Pada umumnya, aset dengan leveraged yang tinggi, cyclical, dan bersifat spekulatif akan menunjukan kinerja yang mengecewakan. Seluruh perusahaan yang masuk dalam kategori tersebut sangat berisiko bagi investor karena ada potensi bangkrut.

Sebaliknya, investor yang ingin tetap bertahan dan berkembang selama masa krisis akan memilih untuk berinvestasi di perusahaan yang berkualitas dengan neraca keuangan yang kuat, jumlah utang yang rendah, arus kas yang sehat, dan memiliki sejarah yang baik selama melewati masa krisis.

1. Saham Yang Berisiko Tinggi

Mengetahui aset yang perlu dihindari karena berisiko tinggi sangat penting bagi investor untuk menghindari kerugian di tengah masa resesi. Secara umum, perusahaan dan aset yang berisiko tinggi memiliki hutang yang tinggi (highly leveraged), cyclical, atau spekulatif.

Adapun tim ngurusduit telah merangkum alasan mengapa Anda harus menghindari seluruh perusahaan dan aset tersebut. Yuk disimak

a. Tingkat Hutang Yang Tinggi

Merupakan suatu tindakan yang bijak bagi Investor untuk menghindari perusahaan yang memiliki banyak hutang di neraca keuangan mereka. Perusahaan ini akan menderita karena mereka harus membayar bunga yang lebih tinggi dibandingkan biasanya.

Sementara perusahaan harus berjuang untuk membayar cicilan hutang, perusahaan juga menghadapi kenyataan pahit bahwa pendapatan yang menurun karena resesi. Berdasarkan pertimbangan tersebut, kemungkinan untuk perusahaan akan gulung tikar lebih tinggi dibandingkan dengan perusahaan yang tidak memiliki hutang.

b. Cyclical Stocks

Definisi cyclical stocks adalah saham perusahaan yang pendapatannya sangat berkaitan dengan tingkat aktivitas bisnis. Jenis saham ini cenderung untuk memiliki pergerakan naik – turun yang sama dengan siklus ekonomi.

Cyclical stocks selalu direkomendasikan pada saat ekonomi dalam keadaan baik karena lebih banyak konsumen yang dapat membeli barang sekunder atau barang mewah. Sebagai contoh, perusahaan yang memproduksi mobil balap (ferrari / lamborghini), furnitur, dan fashion termasuk dalam perusahaan cyclical.

Sebaliknya, konsumen pasti akan memotong pengeluaran mereka untuk membeli kebutuhan sekunder atau barang mewah ketika terjadi resesi ekonomi. Mereka akan mengurangi rencana travelling, makan di restoran, ataupun membeli tas branded. Oleh karena itu, cyclical stocks akan menderita kerugian karena tidak menarik bagi investor selama masa krisis.

c. Saham Spekulatif

Saham spekulatif seringkali “digoreng” oleh bandar sehingga mendapatkan apresiasi harga yang tinggi. Namun, optimisme ini hanya berlaku dalam keadaan normal karena harga saham spekulatif akan jatuh bebas saat terjadi resesi.

Saham spekulatif belum berhasil membuktikan kinerja mereka dan seringkali dilirik sebagai peluang oleh bandar untuk mendapatkan banyak cuan. Namun, harga saham spekulatif akan jatuh dengan keras karena bandar akan menjual seluruh portfolio mereka untuk ditempatkan di aset safe haven selama masa krisis.

2. Saham Yang Direkomendasikan

Walaupun saham memiliki risiko yang sangat tinggi di masa krisis, beberapa investor tidak ingin melewati peluang emas ini. Berdasarkan sejarah, beberapa perusahaan tetap menunjukkan kinerja yang baik di tengah masa krisis. Anda dapat mempertimbangkan berinvestasi di saham defensif dan memiliki neraca keuangan yang kuat.

a. Saham Defensif

Saham defensif atau counter cyclical adalah saham – saham yang tidak terpengaruh oleh siklus ekonomi. Saham defensif cenderung untuk mempertahankan kinerjanya di tengah masa krisis.

Secara umum, saham defensif terdiri dari perusahaan yang rutin membagi dividen atau memiliki business model yang solid. Sebagai bentuk antisipasi terhadap kondisi ekonomi, investor akan menambahkan saham defensif ke dalam portfolio mereka.

b. Neraca Keuangan Yang Kuat

Strategi investasi yang terbaik selama masa resesi adalah mencari perusahaan yang menjadi neraca keuangan walaupun terjadi turbulensi ekonomi. Dengan mempelajari laporan keuangan perusahaan, Anda dapat menentukan apakah perusahaan mengelola hutangnya dengan baik? apakah perusahaan memiliki arus kas yang sehat? Apakah perusahaan menghasilkan keuntungan? Seluruh faktor ini perlu dipertimbangkan sebelum mengambil keputusan untuk berinvestasi.

3. Kesimpulan

Atas seluruh pembahasan di atas mengenai strategi investasi terbaik di tengah krisis, tim ngurusduit dapat mengambil kesimpulan berikut :

  • Investor harus menghindari perusahaan yang memiliki leverage yang tinggi, cyclical, atau spekulatif karena seluruh perusahaan tersebut rentan mengalami kebangkrutan.
  • Strategi terbaik di tengah krisis adalah berinvestasi di aset safe haven (baca juga : apa itu safe haven?) dan perusahaan yang memiliki sedikit hutang, arus kas yang sehat, serta neraca keuangan yang kuat.
  • Saham counter-cyclical akan bekerja dengan baik dan mengalami apresiasi harga, walaupun terjadi krisis ekonomi.
  • Beberapa industri yang dapat dipertimbangkan karena sejarah menunjukkan bahwa perusahaan utilitas, FMCG, dan retailer mampu bertahan menghadapi resesi.
Author

Write A Comment