Secara umum, struktur modal dapat diartikan sebagai perbandingan antara utang dan ekuitas. Yang dimaksud dengan ekuitas adalah modal dasar yang telah disetorkan pemilik perusahaan, sedangkan utang adalah sumber pendanaan yang diperoleh dari pihak ketiga.

Baca juga :  Apa itu struktur modal perusahaan?

Sangat penting bagi perusahaan untuk mengoptimalkan komposisi struktur modal untuk mengendalikan risiko dan memaksimalkan profit perusahaan. Untuk itu stakeholders perlu memahami faktor yang mempengaruhi struktur modal sebelum mengambil keputusan.

Lalu faktor apa saja yang mempengaruhi struktur modal?

Faktor yang mempengaruhi struktur modal

Pengendali perusahaan

Seperti yang kita ketahui bahwa struktur modal terdiri atas utang dan ekuitas. Dengan kata lain, perusahaan tersebut dimiliki oleh kreditur dan pemegang saham. Sedangkan manajemen hanyalah perpanjangan tangan dari pemilik perusahaan tersebut.

Pada awalnya semua perusahaan beroperasi dengan menggunakan modal sendiri sehingga manajemen hanya diawasi oleh pemegang saham. Ketika perusahaan memutuskan untuk mengambil utang, maka kreditur juga akan ikut mengawasi managemen perusahaan.

Jadi bisa disimpulkan bahwa kinerja manajemen akan lebih OK ketika diawasi oleh pemegang saham dan kreditur.

Ukuran perusahaan

Semakin besar ukuran perusahaan, maka struktur modalnya akan semakin kompleks.

Perusahaan kecil, seperti UKM dan UMKM, dapat menjalankan usaha dengan modal sendiri atau meminjam uang ke bank. Sedangkan perusahaan besar berskala Commercial dan Corporate telah memiliki nilai kapitalisasi yang besar sehingga opsi meminjam uang ke bank menjadi tidak menarik. Hal ini disebabkan bunga pinjaman yang tinggi.

Beberapa opsi yang dapat diambil oleh perusahaan besar adalah menerbitkan surat utang (obligasi) atau mendapatkan pendanaan dari luar negeri dalam USD. Sebagai perbandingan, berikut adalah perbandingan bunga antara kredit perbankan, obligasi dan pinjaman USD per Januari 2020.

  • Bunga kredit bank dalam rupiah berkisar antara 11% – 13%
  • Bunga obligasi berkisar antara 8%-9%
  • Bunga pinjaman USD berkisar antara 6% – 7% 

Baca juga : Apa itu UKM? Apa itu UMKM?

Risiko bisnis

Risiko bisnis menggambarkan ketidakpastian yang dihadapi oleh perusahaan dalam menjalankan usahanya. Semakin tinggi risiko bisnis perusahaan, maka perusahaan akan semakin sulit untuk mendapatkan pendanaan dari luar. Hal ini wajar mengingat investor ingin mendapatkan kepastian return dan imbal hasil atas investasi yang telah diberikan.

Sebagai contoh, ada dua (2) perusahaan yang memerlukan utang untuk mengembangkan usahanya, yaitu counter handphone. Keduanya menawarkan tingkat keuntungan yang menggiurkan bagi investor. PT A telah berjualan handphone selama 10 tahun, sedangkan PT B baru merencanakan toko handphone. Manakah perusahaan yang memiliki risiko bisnis lebih tinggi?

Apabila jawaban Anda adalah PT B, maka Anda telah menjawab dengan tepat. Hal ini dikarenakan PT A telah terbukti dapat menghasilkan laba selama bertahun – tahun, sedangkan PT B baru hitung – hitungan di atas. Sebagai investor, saya akan memilih untuk berinvestasi di PT A.

Biaya modal

Salah satu pertimbangan dalam menentukan struktur modal adalah biaya yang dikeluarkan untuk menggalang dana tersebut, sering disebut biaya modal. Perusahaan perlu memperhitungkan biaya modal untuk mendapatkan utang atau menerbitkan saham baru sebelum mengambil keputusan.

Prioritas sumber pendanaan tersebut adalah biaya modal termurah dan kecepatan untuk mendapatkan sumber pendanaan tersebut.

Profitabilitas

Faktor berikutnya adalah profitabilitas. Hal ini menggambarkan tingkat return yang dihasilkan perusahaan dari aktivitas bisnis utamanya. Sebagai contoh, PT ABC memiliki modal Rp 1 Miliar untuk membuat toko jual beli handphone. Modal ini berkembang menjadi Rp 3 Miliar setelah 1 tahun. Maka tingkat profitabilitas dari PT ABC adalah 200%.

Semakin tinggi tingkat profitabilitas dari perusahaan, maka semakin kecil proporsi utang perusahaan tersebut. Dalam rangka memaksimalkan profit, stakeholders pasti akan memilih sumber dana internal untuk mengembangkan usaha.

Peraturan pemerintah

Walaupun secara umum, pemerintah membebaskan perusahaan untuk mendapatkan modal kerja. Tetapi pemerintah mengatur struktur modal untuk kategori industri tertentu. Peraturan ini tidak boleh dilanggar karena menyangkut hajat hidup orang banyak.

Sebagai contoh, perbankan wajib untuk mengatur likuiditas melalui giro wajib minimum (GWM). Hal ini berlaku untuk bank BUMN dan bank swasta. Perlakuan ini tentu saja telah melewati kajian yang matang oleh pemerintah sehingga perlu dibatasi ruang gerak untuk struktur modalnya.

Peluang usaha

Semua industri mempunyai pasang – surut dalam bisnisnya. Sebagai contoh, era digitalisasi 4.0 mendorong pertumbuhan perusahaan start up sehingga dapat dengan mudah mendapatkan pendanaan. Sedangkan industri batubara sudah memasuki sunset sehingga akan sulit untuk mendapatkan utang.

Preferensi

Preferensi merupakan hal yang sedikit susah untuk dijelaskan. Pada intinya, faktor fleksibilitas sampai faktor peluang usaha merupakan bahan pertimbangan stakeholder untuk mengambil keputusan.

Yang dimaksud dengan stakeholder adalah manajemen perusahaan, pemegang saham, dan kreditur. Setiap pihak memiliki penilaian yang subyektif terhadap struktur modal karena memiliki kepentingan yang berbeda.

Pemegang saham tentunya berkepentingan untuk mendapatkan dividen yang sebesar – besarnya. Kreditur mempunyai kepentingan untuk mendapatkan jaminan asset dan bunga atas pinjaman dana yang telah diberikan. Manajemen berkepentingan untuk memastikan sustainability perusahaan.

Ketiga pihak ini akan bernegosiasi sehingga mendapatkan keputusan yang saling menguntungkan.

Itulah tadi 8 faktor yang mempengaruhi struktur modal perusahaan. Share & subscribe blog ini kalau Anda suka.

Author

Write A Comment