Apa itu saham syariah? Saat ini kebutuhan akan investasi yang halal sangatlah tinggi. Hal ini dapat terlihat dari pertumbuhan kapitalisasi pasar modal syariah yang mencapai 30 persen setiap tahunnya.

Hal ini sejalan dengan fatwa dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Dalam fatwa No. 80/DSN-MUI/III/2011 disebutkan bahwa investasi saham dianggap sesuai syariah apabila melakukan jual beli saham syariah. Selain itu, dalam transaksi saham syariah tidak boleh melakukan tindakan transaksi yang spekulatif.

Apa itu Saham Syariah?

Saham syariah adalah surat berharga yang menunjukkan bukti kepemilikan atau hak atas suatu perusahaan dimana kegiatan usaha dan cara mengelola perusahaan sesuai dengan prinsip – prinsip syariah.

Seorang muslim haruslah menanamkan modalnya dalam bentuk saham syariah. Terdapat dua jenis saham syariah yang diakui di pasar modal Indonesia, yaitu:

  1. Saham yang memenuhi kriteria saham syariah berdasarkan peraturan OJK nomor 35/POJK.04/2017 tentang kriteria dan penerbitan daftar efek syariah.
  2. Saham yang dicatatkan sebagai saham syariah oleh emiten atau perusahaan public syariah berdasarkan peraturan OJK nomor 17/POJK.04/2015.

Seluruh saham syariah tersebut selanjutnya dituangkan oleh OJK ke dalam Daftar Efek Syariah (DES) yang dievaluasi oleh OJK secara berkala. Seluruh saham syariah yang terdaftar dapat Anda pantau dalam Indeks Saham Syariah Indonesia.

Kriteria Saham Syariah

Saat ini, kriteria saham syariah oleh OJK adalah sebagai berikut:

  1. Tidak melakukan perjudian dan permainan yang tergolong judi.
  2. Tidak melakukan perdagangan yang dilarang menurut syariah.
  3. Tidak menawarkan jasa keuangan dengan riba.
  4. Tidak melakukan jual beli risiko yang mengandung unsur ketidakpastian (gharar) dan/atau judi (maisir).
  5. Tidak memproduksi, mendistribusikan, memperdagangkan, dan/atau menyediakan barang atau jasa haram zatnya; barang atau jasa haram bukan karena zatnya yang ditetapkan oleh DSN MUI; dan barang atau jasa yang merusak moral dan/atau bersifat mudarat.
  6. Memastikan total utang yang berbasis bunga dibandingkan dengan total aset tidak lebih dari 45%.
  7. Total pendapatan bunga dan pendapatan tidak halal lainnya dibandingkan dengan pendapatan usaha dan pendapatan lain – lain tidak lebih dari 10%.

Fatwa Saham Syariah

Sampai artikel ini ditulis, terdapat 17 fatwa tentang Pasar Modal Syariah. Diantaranya 17 fatwa tersebut, terdapat 3 fatwa yang menjadi dasar pengembangan pasar modal Syariah adalah:

  1. Fatwa DSN-MUI No: 20/DSN-MUI/IV/2001 tentang Pedoman Pelaksanaan Investasi Untuk Reksa dana Syariah
  2. Fatwa DSN-MUI No: 40/DSN-MUI/X/2003 tentang Pasar Modal dan Pedoman Umum Penerapan Prinsip Syariah di Bidang Pasar Modal
  3. Fatwa DSN-MUI No. 80/DSN-MUI/III/2011 tentang Penerapan Prinsip Syariah dalam Mekanisme Perdagangan Efek Bersifat Ekuitas di Pasar Reguler Bursa Efek.

Fakta Menarik

Beberapa fakta menarik mengenai saham syariah adalah:

  1. Jumlah investor. Bahkan dikabarkan jumlah investor saham syariah meningkat dari 2.705 investor di akhir tahun 2004 menjadi lebih dari 60.000 investor di akhir taun 2019.
  2. Kapitalisasi pasar. Kapitalisasi pasar saham Syariah mencapai Rp 3.806 Triliun.
  3. Volume transaksi. Volume transaksi saham Syariah mencapai Rp 5.123 Triliun.

Baca juga : Apa itu Saham?

Kesimpulan

Bursa Efek Indonesia berusaha untuk memilih saham syariah sesuai kaidah yang ditetapkan oleh Dewan Syariah Nasional. Daftar saham syariah tersebut dituangkan dalam Jakarta Islamic Index (JII). JII diterbitkan dengan maksud membantu investor memilih saham yang berbasis prinsip syariah.

Dengan menerbitkan JII, maka BEI mengharapkan dapat meningkatkan kepercayaan investor muslim. Semoga informasi ini bermanfaat untuk Anda.

Tetap belajar. Salam Pelajar Saham!

Author

Write A Comment